Rabu, 06 Mei 2009

Penawaran

Penawaran

Apakah yang dimaksud dengan penawaran? Permintaan merupakan kegiatan ekonomi yang dilihat dari sudut konsumen/pembeli. Pembicaraan mengenai penawaran kepada kutub lainnya, yaitu dilihat dari sudut produsen/penjual.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen, pihak produsen menyediakan barang dan jasa. Barang dan jasa hasil produksi ini kemudian dijual kepada konsumen di pasar menurut tingkat harga tertentu. Harga yang ditawarkan beragam sesuai dengan situasi yang mempengaruhi. Tampak kembali di sini unsur-unsur yang termuat dalam permintaan, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda. Permintaan berkaitan dengan pembelian dan pemakaian, sedangkan penawaran berkaitan dengan penyediaan dan penjualan.


Kurva Penawaran
Penjual (produsen) biasanya ingin menjual barang atau jasa yang diproduksinya dengan harga yang tinggi, walaupun risikonya adalah barang yang terjual sedikit. Untuk menjual pada tingkat harga yang diinginkan, seorang penjual harus mempunyai pengamatan yang cermat terhadap perilaku pasar. Penjual buah-buahan, misalnya, ingin menjual dengan harga yang cukup tinggi di pasar. Sayangnya keinginan tersebut bertepatan dengan musim panen raya. Akibatnya, di pasar akan berkerumun penjual buah-buahan sehingga harga buah-buahan pun akan jatuh. Sebaliknya, apabila sedang tidak musim panen raya, dengan akibat konsumen sulit mendapatkan buah-buahan segar, maka penjual dapat memenuhi keinginannya untuk menjual dengan harga yang cukup tinggi.

Hukum Penawaran
Hukum penawaran adalah jumlah barang yang ditawarkan akan meningkat apabila harga naik dan akan berkurang jika harga turun.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Penawaran
1. Teknologi produksi
Tingkat kemampuan teknologi perusahaan menentukan kemampuan berproduksi perusahaan itu. Makin tinggi teknologi semakin tinggi pula tingkat produksi barang dan menyebabkan penawaran bertambah.

2. Munculnya produsen baru
Munculnya produsen baru di pasaran akan menambah jumlah barang yang dijual dan ditawarkan.

3. Harga sumber-sumber produksi
Naik turunnya harga sumber-sumber produksi akan mengakibatkan naik turunnya biaya produksi. Hal ini akan mempengaruhi penawaran suatu jenis produksi barang.

Mengukur dan Meramalkan Permintaan Pasar
Apabila perusahaan menemukan suatu pasar yang menarik, maka ia perlu mengestimasi besarnya pasar pada masa sekarang dan masa yang akan datang dengan cermat. Perusahaan akan kehilangan sejumlah laba karena terlalu besar atau terlalu kecil mengestimasi besarnya pasar.

Mengukur Permintaan Pasar Saat Ini
Manajemen perlu mengestimasi tiga aspek dari permintaan pasar sekarang. Ada tiga metode praktis untuk mengestimasi permintaan ini, yaitu total permintaan pasar, wilayah permintaan pasar, penjualan aktual dan pangsa pasar (market-share).

Mengestimasi Total Permintaan Pasar
Total permintaan pasar suatu produk adalah total volume yang dibeli oleh sekelompok konsumen tertentu dalam suatu wilayah geografis tertentu selama jangka waktu tertentu dalam suatu lingkungan pemasaran tertentu.
Salah satu metode praktis untuk mengestimasi total permintaan pasar adalah dengan menggunakan persamaan :
Q = n . p . q
dimana :
Q = total permintaan pasar
n = jumlah pembeli di pasar
p = harga rata-rata satuan
q = jumlah yang dibeli oleh rata-rata pembeli per tahun

Mengestimasi Wilayah Permintaan Pasar
Dalam hal memilih wilayah yang terbaik, serta mengalokasikan anggaran pemasaran yang optimal, dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode Market-Build Up dan Market Factor Index. Metode Market-Build Up digunakan terutama oleh perusahaan barang industri untuk mengidentifikasi semua pembeli potensial dalam setiap pasar dan mengestimasikan pembelian potensialnya, sedangkan Metode Market Factor Index digunakan terutama oleh perusahaan barang konsumsi, dengan mengidentifikasi faktor-faktor pasar yang ada korelasinya dengan potensi dan menggabungkannya ke dalam sebuah indeks tertimbang.

Mengestimasi Penjualan Aktual dan Pangsa Pasar
Perusahaan perlu mengetahui penjualan sebenarnya dari industri bersangkutan yang terjadi di pasar, jadi ia harus mengidentifikasi para pesaingnya dan mengestimasi penjualan mereka. Data dapat dikumpulkan baik dari asosiasi atau dari lembaga riset.

Meramal Permintaan Mendatang
Setelah membahas cara-cara mengestimasi permintaan sekarang, selanjutnya manajemen perlu menelaah permintaan mendatang. Ada banyak cara untuk meramal penjualan masa datang, di antaranya dipaparkan berikut ini :

Survei nilai pembeli, yaitu dengan menanyakan kepada mereka secara langsung dengan harapan mereka akan menjawab secara obyektif.
Pendapat para tenaga penjual (wiraniaga), yaitu perusahaan meminta para tenaga penjualnya untuk mengestimasi penjualan tiap produk untuk daerah mereka masing-masing, kemudian semua estimasi individu dijumlahkan untuk mendapat ramalan penjualan secara keseluruhan. Dalam mengestimasi, dibutuhkan bermacam data.
Contoh :
Misalnya, para wiraniaga setelah selesai melakukan kunjungan, dimana untuk membuat laporan yang sering disebut Laporan Kunjungan. Laporannya, misalnya berisi :
 rata-rata jumlah kunjungan per orang per hari,
 rata-rata waktu yang diperlukan per kunjungan,
 rata-rata biaya perkunjungan,
 rata-rata pendapatan per kunjungan,
 rata-rata biaya jamuan per kunjungan,
 presentase pesanan per 100 kunjungan penjualan,
 jumlah pelanggan baru per periode,
 jumlah debitur macet per periode,
 biaya wiraniaga, jika merupakan persentase dari total penjualan.

Dari data di atas diharapkan prakiraan permintaan produk dapat ditentukan.

Pendapat para ahli, yaitu pendapat yang dihasilkan berdasarkan data dan analisis yang lengkap dan ilmiah baik dari para akademisi maupun dari para praktisi. Untuk mengetahui pendapat para ahli, dapat digunakan teknik Delphi.
Contoh :
Menganalisis lingkungan industri perbankan sudah tentu memerlukan data. Variabel-variabel apa saja yang dibutuhkan serta bobot dari tiap komponen perlu ditentukan terlebih dahulu.

Secara ringkas, langkah kerja teknik ini adalah sebagai berikut :
1. Menyerahkan kuesioner yang sudah disiapkan kepada para ahli dalam bidangnya masing-masing. Akan lebih baik jika mereka tidak saling mengenal. Alasannya sederhana, yakni agar mereka tidak saling bekerjasama dalam mengisi kuesioner tersebut.
2. Buat ringkasan data dari kuesioner putaran pertama yang telah disebarkan tadi. Isi ringkasan itu misalnya berupa statistik seperti rata-rata, median, dan kwartil dari jawaban yang dikirimkan responden. Kemudian, ringkasan dari kuesioner putaran pertama dikirimkan kembali kepada responden pertama yang telah menjawab di kuesioner putaran pertama. Hal ini dilakukan untuk mencek jawaban putaran pertama yang mereka kirimkan.
3. Buat ringkasan data dari kuesioner putaran kedua (terakhir). Pada ringkasan ini akan segera terlihat konsensus yang terbentuk.

Analisis Regresi, yaitu seperangkat prosedur statistik untuk menentukan faktor-faktor nyata yang paling penting yang mempengaruhi penjualan.

Contoh :
Berikut dicontohkan aplikasi dari regresi linier sederhana. Jika terdapat data dari dua variabel penelitian yang sudah diketahui mana variabel bebas X (independen) dan variabel terikat Y (dependen)-nya, lalu akan dihitung atau dicari nilai-nilai Y yang lain berdasarkan nilai X yang diketahui, langkah penyelesaiannya dijelaskan di bawah ini.

Rumus :
Y = a + b X
dimana :
Y = variabel tidak bebas
X = variabel bebas
a = nilai intercept (konstan)
b = koefisien arah regresi

a =


Harga b dihitung dengan rumus :

b =

Contoh :
Pembahasan teknik peramalan ini hanya menggunakan model klasik yang bersifat deskriptif, sedangkan model probabilitas yang lebih kompleks dengan menggunakan teori Ekonometrika yang tidak disajikan dalam buku ini. Salah satu metodenya adalah metode Kuadrat Terkecil (Least Square Method). Dengan memakai metode ini, untuk yang berbentuk linier, sederhana, persamaannya adalah :
Yt = a + bt
Harga-harga a dan b ditentukan dengan rumus :

dimana :
Y = nilai-nilai data hasil ramalan
n = jumlah data deret waktu
t = waktu tertentu yang telah ditransformasikan dalam bentuk kode

Permintaan

Apakah yang dimaksud dengan permintaan? Untuk memahami arti permintaan, perlu kita ketahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan konsumen. Faktor pertama adalah barang dan jasa. Kebutuhan konsumen pada dasarnya merupakan permintaan akan barang dan jasa tertentu. Faktor kedua adalah harga. Konsumen cenderung memilih barang dan jasa semurah-murahnya. Faktor ketiga adalah situasi. Dalam situasi tertentu, misalnya untuk pesta ultah emas atau saat persediaan di pasar menipis, konsumen bersedia membeli barang dan jasa tertentu dengan harga mahal.

Macam-macam permintaan :
a. Permintaan efektif
yaitu permintaan dari konsumen atau pembeli yang disertai kemampuan membayar. Permintaan efektif akan mendorong kehidupan ekonomi sehingga akan memegang peranan yang sangat besar dalam kehidupan ekonomi.
b. Permintaan potensial
yaitu permintaan yang memiliki kemampuan untuk membeli tetapi belum melaksanakan pembelian tersebut.
c. Permintaan absolut
yaitu permintaan yang tidak berdaya beli atau permintaan yang tidak disertai kemampuan membayar harganya.


Kurva Permintaan
Permintaan dapat digambarkan dalam bentuk grafik, yaitu kurva permintaan. Untuk menggambarkan kurva permintaan, harga dianggap sebagai faktor dominan yang mempengaruhi permintaan. Faktor-faktor lain dianggap tidak berubah (cateris paribus). Dengan demikian, kurva permintaan memperlihatkan pengaruh harga terhadap jumlah barang atau jasa yang dibeli.
Mengapa kurva permintaan memiliki kemiringan negatif? Latar belakang kondisi itu antara lain sebagai berikut :

Pada harga yang tinggi, banyak pembeli yang tidak mampu membeli, atau mungkin cenderung mencari barang substitusi dengan harga terjangkau. Sedangkan pada harga rendah, pembeli menjadi mampu untuk membeli.
Bagi pembeli perorangan, kenaikan harga akan memperkecil daya beli pembeli atau akan mengurangi anggaran untuk alat pemuas kebutuhan yang lainnya (dengan catatan pendapatan tetap). Hal inilah yang memberikan dorongan bagi pembeli yang kurang mampu untuk mengambil keputusan lebih baik untuk tidak membeli pada saat harga barang atau jasa sedang tinggi.

Hukum Permintaan

Kurva permintaan dapat dianalisis lebih lanjut untuk mendapatkan norma atau hukum yang umum berlaku untuk setiap permintaan. Namun perlu kita ingat, hukum ekonomi itu berlaku cateris paribus (di luar obyek yang diselidiki, keadaannya tetap tidak berubah.

Hukum permintaan adalah jumlah barang dan jasa yang diminta akan bertambah apabila harga turun dan akan berkurang apabila harga naik, pada periode tertentu.
Hukum permintaan terutama dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa orang harus memenuhi kebutuhan sebatas anggaran atau pendapatan tertentu. Muncul masalah, mengapa manusia harus memenuhi berbagai kebutuhan, sementara anggaran yang dimilikinya terbatas? Alasannya, setiap benda pemuas kebutuhan mempunyai nilai guna (utilitas) masing-masing sehingga orang akan berupaya memenuhi kebutuhan dengan menyamakan nilai guna marginal atau utilitas marginal (marginal utility, MU) benda pemuas kebutuhan yang dikonsumsi.

Contoh yang cukup jelas antara lain kebutuhan akan beras dan ikan. Seseorang akan merasa puas apabila dapat mengkonsumsi kedua barang tersebut. Akibatnya, ia akan berusaha menghubungkan marginal utility (MU) ikan berdasarkan harga masing-masing. Selama perbandingan antara MU beras dan harga beras (UMb/Pb) masih lebih besar daripada perbandingan antara MU ikan dan harga ikan (MUi/Pi), maka ia akan cenderung membeli beras lebih banyak lagi. Akan tetapi, setiap tambahan konsumsi beras akan mengurangi MUb berikutnya. Demikian seterusnya. Tindakan mengkonsumsi beras lebih banyak akan berhenti apabila perbandingan antara MU dan harga telah sama untuk kedua barang tersebut. Dalam kasus ini, konsumen telah mencapai keseimbangan dalam mengkonsumsi beras dan ikan.

atau

Setiap benda pemenuhan kebutuhan akan diminta, jika keadaan utilitas marginal dari setiap Rupiah yang dibelanjakan atas barang itu adalah sama dengan utilitas marginal dari setiap Rupiah yang dibelanjakan barang lain. Secara umum, syarat keseimbangan konsumen dalam mengkonsumsi berbagai alat pemuas kebutuhan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Permintaan
1. Selera
Jika selera masyarakat sedang mengarah kepada keinginan untuk membeli sesuatu jenis barang atau jasa pada tingkat harga tertentu, maka akan terjadi pergeseran permintaan sekaligus pergeseran penawaran. Misalnya, mode pakaian wanita yang sedang disenangi kaum remaja akan mengakibatkan banyaknya permintaan. Gejala ini mengakibatkan terjadinya permintaan tekstil yang semakin banyak untuk jenis tertentu. Sudah barang tentu, naiknya jumlah permintaan akan mengakibatkan naiknya jumlah penawaran baik tekstil maupun pakaian wanita model terbaru pada tingkat harga tertentu.

2 Perubahan Pendapatan
Apabila pendapatan masyarakat bertambah, maka sudah barang tentu terjadi perubahan pola permintaan di pasar, sekaligus perubahan penawaran untuk komoditi tertentu. Misalnya, kenaikan gaji pegawai negeri dan karyawan swasta sudah pasti akan meningkatkan pendapatan pegawai negeri dan karyawan yang bersangkutan. Kenaikan ini mengakibatkan terjadinya perubahan baik permintaan maupun penawaran terhadap beberapa komoditi tertentu pada tingkat harga tertentu, terhadap barang-barang kebutuhan pokok, pendidikan, rekreasi dan lain-lain.

3 Perubahan Penduduk
Pertambahan penduduk merupakan faktor yang sangat dominan terhadap perubahan permintaan dan penawaran. Gejala ini mudah dimengerti, mengingat tidak mungkin seorang anak manusia yang lahir di dunia ini akan dibiarkan demikian saja tanpa perawatan, makanan, pakaian, tempat tinggal dan pendidikan sebagaimana layaknya manusia yang harus hidup wajar. Jadi jelaslah bahwa semakin banyaknya jumlah penduduk akan mengakibatkan meningkatnya permintaan dan penawaran terhadap barang dan jasa.

4 Harapan
Harapan masa depan mengacu kepada suatu idaman untuk hidup sejahtera, yaitu hidup yang nyaman, aman dan sudah pasti bahagia. Untuk hidup yang demikian diperlukan benda pemuas kebutuhan yang lengkap, antara lain, pendidikan, tabungan dan lain sebagainya. Jadi untuk memenuhi harapan masa depan minimal seseorang harus memiliki pendidikan dan pekerjaan. Untuk itu permintaan terhadap pendidikan dan lapangan pekerjaan akan bertambah terus dan sudah pasti penawarannya pun akan bertambah. Pendidikan dan pekerjaan tidak mungkin berdiri sendiri. Pendidikan yang bermutu membutuhkan sarana yang lengkap. Begitu pula dengan pekerjaan. Berarti, keperluan untuk pendidikan dan pekerjaan pada gilirannya akan mempengaruhi keperluan barang dan jasa lainnya. Dengan demikian permintaan serta penawaran akan benda-benda pemuas kebutuhan lainnya akan meningkat.
5 Barang Pengganti
Barang pengganti (substitusi) juga bisa menggeser kurva permintaan dan penawaran suatu produk. Munculnya barang pengganti yang lebih murah, misalnya akan menggeser kurva permintaan suatu produk ke kiri. Permintaan terhadap produk tersebut akan menurun.

Pasar

Pasar

Pengertian Pasar
Pasar adalah sebuah mekanisme yang melaluinya para pembeli dan para penjual berinteraksi untuk menentukan harga dan melakukan pertukaran barang dan jasa.

Bentuk-bentuk Pasar
1 Pasar Persaingan Sempurna
Pasar persaingan sempurna (perfect competition market) adalah pasar tempat kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran dapat bergerak secara leluasa.
Adapun ciri-ciri persaingan sempurna adalah sebagai berikut :
a. Jumlah pembeli dan penjual banyak
Dalam pasar persaingan sempurna ini, pembeli dan penjual berjumlah banyak. Artinya, jumlah pembeli dan jumlah penjual sedemikian besarnya, sehingga masing-masing pembeli dan penjual tidak mampu mempengaruhi harga pasar.
b. Barang dan jasa yang diperjualbelikan bersifat homogen
Konsumen menganggap bahwa barang yang diperjualbelikan sama mutunya. Atau paling tidak, konsumen tidak dapat membedakan antara barang satu dengan lainnya.
c. Sumber produksi bebas bergerak
Sumber produksi, seperti bahan baku ataupun tenaga modal bebas bergerak, bebas berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, kemanapun yang menguntungkan. Tidak ada yang menghalangi, baik kendala peraturan maupun kendala teknik.
d. Pembeli dan penjual mengetahui keadaan pasar
Pembeli dan penjual satu sama lain saling mengetahui dalam hal biaya, harga, mutu, tempat dan waktu barang-barang yang diperjualbelikan.
e. Pembeli dan penjual bebas keluar masuk pasar
Pembeli bebas mengambil keputusan untuk membeli atau tidak terhadap suatu barang atau jasa. Penjual pun memiliki kebebasan entah untuk mendirikan atau membubarkan perusahaan, bebas masuk dan keluar dari jenis usaha tertentu. Hal ini tergantung pada kemungkinan ada tidaknya keuntungan yang akan diperoleh penjual atau produsen.
f. Bebas dari campur tangan pemerintah

Dalam pasar persaingan sempurna ini, tidak ada campur tangan pemerintah dalam menentukan harga. Akibatnya, harga barang atau jasa betul-betul terjadi sebagai akibat interaksi permintaan dan penawaran di pasar.

2. Pasar Persaingan Tidak Sempurna
Pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar di mana terdapat satu atau beberapa penjual yang menguasai pasar atau harga, serta satu atau beberapa pembeli yang menguasai pasar atau harga. Jika suatu perusahaan dapat mempengaruhi harga pasar, maka pasar tempat perusahaan itu menjual produknya digolongkan sebagai pasar persaingan yang tidak sempurna.

Adapun bentuk-bentuk pasar persaingan tidak sempurna adalah :
a. Monopoli
Monopoli menunjuk pada suatu kondisi di mana dalam suatu pasar hanya ada satu penjual, sehingga tidak ada pihak lain yang menyaingi. Dalam monopoli, penjual tersebut adalah satu-satunya produsen dalam industri. Tidak ada industri lain yang memproduksi barang yang sama.
Macam-macam monopoli :
1) Monopoli alamiah, yang timbul karena keadaan alam yang khas. Misalnya, Palembang terkenal dengan buah dukunya sehingga buah tersebut cenderung memonopoli pasar. Begitu juga dengan apel hijau dari Malang, atau intan dari Martapura.
2) Monopoli masyarakat, yang terjadi akibat tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap suatu hasil produksi. Misalnya, kecap merek X memonopoli paar karena kecap merek tersebut sudah menjadi favorit masyarakat, sehingga sulit beralih ke kecap merek lain. 3) Monopoli undang-undang, yang muncul karena pemberlakuan secara hukum kebijakan atau peraturan tertentu. Monopoli undang-undang ini antara lain berupa pemberian hak paten, pembatasan masuknya barang-barang baku dalam industri, dan pembatasan perdagangan luar negeri dalam bentuk tarif dan kuota oleh pemerintah.

b. Oligopoli
Oligopoli, menunjuk pada kondisi dimana beberapa penjual menguasai penawaran (pasar). Dalam oligopoli ini, masing-masing perusahaan memproduksi dan menjual produk yang serupa atau hampir serupa.
Di sini, masing-masing perusahaan yang terlibat dalam oligopoli mempunyai pengaruh yang besar terhadap harga pasar. Karena itu, setiap kebijakan yang ditempuh oleh suatu perusahaan harus betul-betul dipertimbangkan pengaruhnya terhadap perusahaan lain.

c. Monopsoni
Monopsoni menunjuk pada kondisi permintaan dan pasar yang dikuasai oleh pembeli tunggal. Kondisi ini lebih sering terdapat di kalangan produsen dan jarang di kalangan konsumen.

d. Oligopsoni
Oligopsoni menunjuk pada suatu kondisi pasar di mana terdapat beberapa pembeli. Masing-masing pembeli memiliki peran cukup besar untuk mempengaruhi harga barang ataupun yang dibelinya.

3. Pasar Persaingan Monopolistik
Kondisi pasar semacam ini akan terjadi jika pasar dikuasai oleh beberapa penjual atau produsen dari satu jenis barang atau jasa yang berlainan kualitas, bentuk, ukuran, atau yang diistilahkan sebagai product differentation (pembedaan produk). Dengan kata lain, pasar persaingan monopolistik pada dasarnya merupakan pasar di antara pasar persaingan sempurna dengan pasar monopoli.

Pasar persaingan monopolistik mempunyai unsur monopoli sekaligus unsur-unsur persaingan.
Secara umum, ciri-ciri pasar persaingan monopolistik adalah sebagai berikut :
1. Jumlah penjual atau produsen cukup banyak, namun tidak sebanyak pada pasar persaingan sempurna.
2. Masing-masing penjual atau produsen masih dapat mempengaruhi harga, walaupun tidak mutlak.
3. Barang yang diperjualbelikan tidak homogen sekali, melainkan ada perbedaan, meskipun perbedaan tersebut hanya pada warna, merek, mutu dan ukuran.
4. Ada pembatasan dalam pendirian perusahaan, walaupun tidak sesulit pada monopoli dan tidak semudah pada pasar persaingan sempurna.

Tujuh Hal yang “Harus Dimiliki” untuk Mengubah Hidup yang Biasa Menjadi Luar Biasa!

Tujuh Hal yang “Harus Dimiliki” untuk Mengubah Hidup yang Biasa Menjadi Luar Biasa!
1. Merasa gembira dan bahagia dengan kehidupan Anda, sekalipun banyak hal tidak berjalan seperti keinginan Anda. Mengetahui bahwa setiap pelajaran adalah anugerah untuk pertumbuhan Anda.
2. Mencintai diri Anda sendiri, orang lain, dan dunia tempat Anda hidup dapat menyembuhkan, mengubah, dan membuat keajaiban yang menurut Anda tidak mungkin terjadi. Cinta mengobati segalanya.
3. Merasakan kelimpahan yang tidak ada kaitannya dengan berapa banyak uang atau harta yang Anda miliki, tetapi dengan mengetahui bahwa alam semesta selalu memberikan persediaan.
4. Perasaan berharga yang menyadari nilai Anda sesungguhnya dan menguatkan penghargaan pada diri Anda sendiri. Respek dan keyakinan teguh akan siapa diri Anda.
5. Kesadaran akan kesehatan yang baik, yang dimulai dengan hubungan antara pikiran-tubuh-jiwa yang kemudian terbawa pada komitmen untuk diet, olahraga, dan kerja jantung.
6. Perasaan bersyukur yang membuat Anda tidak pernah lupa betapa Anda terberkati. Menghargai semua anugerah dan bantuan yang tak pernah berhenti.
7. Kepekaan untuk melakukan perubahan bagi keluarga dan teman, rekan kerja, dan orang asing. Menjalani hidup yang bijaksana dan senantiasa bersikap ramah.
Artikel ini merupakan bagian pertama dari 29 resep bahagia untuk kaum perempuan yang ditulis oleh “Joy Weston” dalam bukunya berjudul “How an Ordinary Woman Can Have an Extraordinary Life.

Kamis, 26 Februari 2009

PSIKOLOGI PENJUALAN

Pengertian Psikologi

Menurut pakar psikologi, yang dimaksudkan dengan psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari kesadaran manusia dan “makluk hidup” lainnya, dengan mempelajari tingkah lakunya, yang timbul disebabkan pengaruh luar terhadap jiwa dan lingkungannya.
Apa yang dimaksud dengan makhluk hidup di sini? Coba simak contoh berikut ini. Rombongan wisatawan itu baru saja turun dari pesawat. Setelah semua barang-barang diterima, rombongan menuju ke bagian pemeriksaan bea & cukai. Tiba-tiba seorang wanita berteriak dan jatuh pingsan setelah ketahuan ia membawa narkotik tanpa sepengetahuannya. Rupanya, wanita itu sadar bahwa titipan seseorang yang diteimanya ternyata “barang haram”, yang membuatnya celaka. Rombongan yang tadinya sedang gembira-gembiranya, semua terdiam. Semuanya saling berpandangan, lesu tanpa bergeming, kecewa dan geram.

Apa yang kita lihat dari cerita ini? Suatu kenyataan bahwa kalau ada rangsangan tertentu, maka makhluk hidup (termasuk manusia) akan memberikan reaksinya walau dengan cara yang berbeda-beda. Perasaan sedang takut, atau kecewa itu, hanya terjadi pada makhluk hidup dan tidak mungkin pada benda mati seperti patung, batu atau pohon, karena benda mati tidak memiliki kesadaran.
Jadi kesadaran hanya ada pada makhluk hidup, yaitu suatu pengalaman batin yang timbul karena adanya dorongan atau simulus dari lingkungannya
Berikut diberikan contoh pengertian psikologis dengan cerita :

Contoh 1 :
Dalam suatu perjalanan wisata di Bangkok, dua orang pria pengikut tour yang sama-sama ganteng, tertarik pada seorang gadis Chingmai yang terkenal rancak itu. Seperti halnya waktu di Taipei, yang selalu dapat cewek cakep adalh Mardo’i, sedangkan temannya Masduki baru dapat cewek karena belas kasihan Mardo’i yang selalu agresif.

Masalahnya ialah, Mardo’i pintar bergaul. Dia tidak pernah menunggu bola, primsip “jemput bola” selau diterapkannya. Jadilah ia seorang yang “pro-active”, karena itu ia selalu berhasil. Tidak sepertiMasduki, yang harus menunggu duren runtuh, kalau pun ada berebut dulu dengan harimau, paling-paling dapat sisanya.
Contoh 2 :
Pada suatu kafe yang ramai dikunjungi kaum selebritis. Anda jadi bingung melihat cewek yang “aduhai”. Di antara cewek yang banyak itu. Anda tertarik pada seseorang yang berbaju merah jambu. Mata anda selalu tertuju kepadanya tanpa putus-putusnya, di luar kesadaran anda sendiri, tiba-tiba anda sadar dan melihat di sekeliling anda rupanya ada orang yan memperhatikan anda.
Tanpa anda sadari, anda sudah memusarkan pikiran anda kepada gadis berbaju merah jambu, tanpa menghiraukan keadaan di sekeliling anda. Rupaya lingkungan di kafe itu telah mempengaruhi tingkah laku anda, atau secara psikologis anda sudah terpengaruh tanpa anda sadari.
Hal seperti ini akan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada rangsangan atau simulus, maka makhluk hidup, seperti manusia dan binatang, akan memberikan reaksi dengan cara yang berbeda-beda.

Tingkat Kesadaran
Bila sedang memperhatikan tari Barong di Bali, Anda akan asyik menyaksikan kelincahan sang Barong muncul dengan gerak gerik jenaka memikat wisatawan yang menyaksikannya. Semua perhatian terpusat pada Barong yang seakan-akan binatang benar-benar hidup.
Perhatian yang terpusat kepada Barong itu, membuat anda tidak ingat akan hal-hal lain, kecuali Barong. Disitu kita dapat melihat bahwa sebenarnya ada dua tingkat kesadaran, yaitu tingkat kesadaran nayata dan tingkat kesadaran tidak nyata.
a. Tingkat Kesadaran Nyata
Bila kita memperhatikan sesuatu, hal itu dapat diartikan sebagai tengah sadar tentang sesuatu yang dilihat. Bila anda sedang mengetik di komputer, kemudian terdengar lagu kesayangan anda di TV atau radio, serta merta anda meninggalkan ketikan anda, kemudian mendengar lirik dan alunan musik yang merdu, anda dikatakan sadar sepenuhnya, yaitu sadar meninggalkan ketikan dan sadar mendengar lagu kesayangan anda itu.
Contoh lain, bila sedang mengadakan perjalanan wisata ke Hongkong, anda membeli Guide Map supaya jangan nyasar. Setelah anda beli, anda asyik sendiri memperhatikan peta tersebut dan mencoret atau memberi tanda tempat-tempat yang penting. Memberi tanda pada map itu adalah perbuatan itu disadarinya, sering orang itu lupa pada hal-hal lain, jika tingkat kesadarannya itu lebih dominan.
b. Tingkat Kesadaran Tidak Nyata
Kalau anda biasa tinggal di Bandung, setelah 25 tahun merantau dan datang lagi ke Bandung pasti ada tempat atau lokasi yang anda tidak ingat seperti warung jajan enak di Jalan Kopo. Walau ragu-ragu, itu tidak berarti kita sudah melupakan, karena kalau dicari dan dicari lagi pasti lokasi warung itu anda temukan.
Demikian pula, kalau anda sedang sibuk menyaksikan TV di malam hari, kemudian ada tamu datang membunyikan bel di depan rumah, anda bukan tidak tahu bahwa ada tamu datang, tetapi karena sedang asyik melihat TV seakan-akan anda tidak ada perhatian atas kedatangan tamu tadi. Inilah yang disebut tingkat kesadaran yang tidak nyata.

Penerapan Psikologi Dalam Penjualan
Coba bayangkan, anda seorang petugas di counter Biro Perjalan Wisata (BPW) pada suatu hotel. Kemudian datang seorang wisatawan menanyakan besok jam berapa counter anda di buka.
Sebagai seorang penjual, anda jangan hanya menjawab besok jam 8.00 pagi saja, tetapi seharunya menanyakan kepada wisatawan itu apa keperluannya. Kalau dia ingin membeli tiket wisata, anda bisa langsung memberikan leaflet paket wisata yang ada, sehingga wisatawan itu dapat mempelajarinya, dan besok pagi ia datang kepada anda sudah punya pilihan dan tinggal menegaskan, paket wisata mana yang dipilihnya.
Contoh lain, waktu bus akan berangkat untuk One Day Tour ke Karangasem, seorang wisatawatan wanita menanyakan, apakah nanti bisa masuk Pura, karenadia sedang datang bulan (coming moon). Karena menurut cerita yang pernah di dengar wisatawan itu, kalau pantang itu dilanggar, akan terjadi musibah atas dirinya.
Sebagai penjual agar bus wisata itu bisa penuh, dan merasa kasihan kalau wisatawan itu tidak ikut, maka Anda dapat saja mengatakan : “Cerita itu hanya cerita dari mulut ke mulut, yang belum pernah diselidiki kebenarannya. Karena itu anda bisa saja ikut dan boleh masuk ke Pura, walau sedang haid. Jadi anda “menari” antara keinginan menjual dengan cerita yang membuat barang dagangan anda tidak terjual.
Bukankah menjual itu harus dilakukan dengan membujuk dan untuk membujuk digunakan pendekatan psikologi, sehingga tindakan membujuk itu tidak dilakukan secara kasar, tetapi secara sadar dapat dilakukan dan tindakan itu tidak merugikan kedua belah pihak yang melakukan transaksi.
Mengapa Orang Membeli
Menjual itu pada dasarnya merupakan suatu cara bagaimana meyakinkan orang lain tentang gagasan atau ide kita sehingga ia menerima dan berbuat sesuai dengan gagasan atau ide yang kita sampaikan. Dalam kegiatan menjual, kita harus berusaha membujuk orang agar mau membeli barang atau jasa yang kita tawarkan. Tidak ubahnya seperti seorang psikolog, kita tidak hanya harus mengetahui cara-cara mengemukakan ide atau memberi usul, tetapi juga harus tahu motivasi seseorang itu melakukan pembelian.
Kita dapat bertanya pada diri kita sendiri, misalnya “Mengapa saya membeli cenderamata kalau berkunjung ke Bali” atau “Mengapa saya selalu menginap di Melia Hotel, kenapa tidak di Remada Inn? Kenapa saya suka makan di restoran Padang, dan tidak di Kentucky Fried Chicken?”.
Dulu, praktik-praktik penjualan sering dilakukan dengan tidak jujur. Trik-trik yang tidak jujur membuat pelanggan merasa kecewa. Seperti kalau anda membeli patung di Kintamani. Waktu menawarkan diperlihatkan patung yang kelihatan halus, terbuat dari kayu Eban. Tetapi kalau anda tidak hati-hati, setelah anda bayar dan tidak melihat kembali patung yang dibungkus atau diserahkan pada anda, bisa patung itu terbuat dari kayu nangka dengan raut kasar yang tidak menarik.
Yang penting kita harus mengetahui, mengapa seseorang itu membutuhkan sesuatu. Dengan mengetahuinya kita akan dapat memberi saran kepada calon pelanggan, mana yang baik dan sesuai dengan keinginannya. Ya….. kita menolong pelanggan membeli.
Di sinilah usaha membujuk itu. Tetapi untuk membujuk seorang pelanggan agar mau membali, terlebih dahulu kita harus mengenal calon pembeli, dan mengerti prinsip pembelian yang akan dilakukannya. Itulah sebabnya, mengapa kita harus terlebih dahulu mengetahui motivasi mengapa seseorang membeli sesuatu itu.
Seseorang penjual, hendaknya juga mengetahui kebiasaan-kebiasaan pelanggan, cara-cara hidup kesehariannya, hal-hal yang patut dan tidak ada tempatnya. Misalnya, di daerah Minahasa di Manado. Kalau panen cengkeh tiba, apa saja dibeli oleh petani. Walau di desanya belum ada listrik, kulkas dibelinya juga. Pokoknya gengsi, walau kulkas itu digunakan untuk tempat pakaian.
Itulah sebabnya, H.E. Waren, seorang pakar psikologi mengatakan : “Untuk dapat mengerti, mengapa seseorang itu membeli, penjual harus mengetahui secara pasti kebiasaan hidupnya, dan sifat-sifat manusia pada umumnya”. Kita hendaknya tahu cara berpikir seseorang dan dapat membedakan reaksi pembeli.
Terhadap wisatawan, kita harus tahu dan mengerti, mengapa ia melakukan pejalanan wisata. Apa yang diperlukannya selama dalam perjalanan itu. Di Indonesia, banyak orang bertugas di bidang pariwisata, tetapi belum pernah menjadi wisatawan, karena itu dia tidak tahu secara persis apa yand dibutuhkan wisatawan dalam kondisi tertentu.
Untuk dapat mengerti apa kebutuhan, keinginan dan kesenangan wisatawan, harus mengikuti aturan sebagai berikut : “Put Yourself into Customer Shoes”. Artinya tempatkanlah diri anda seolah-seolah seorang wisatawan yang dalam perjalanan. Dengan cara itu anda akan tahu apa yang dibutuhkan, apa yang diinginkan oleh wisatawan.
Wisatawan itu menusia biasa, butuh informasi di mana objek dan atraksi wisata yang menarik, transpor yang digunakan menuju objek wisata, ingin tidur di hotel yang nyaman dan tentram, ingin makanan yang enak, ingin dimanja, didahulukan dan sama sekali tidak mau dilecehkan.
Motivasi Membeli
Biasanya, bila seseorang hendak melakukan pembelian selalu punya pertimbangan. Pertimbangan itu ada dua macam, rasional dan tidak rasional. Kalau anda membeli mobil, tujuannya selain agar lebih nyaman pergi ke kantor juga sekalian dapat mengantar anak-anak ke sekolah, maka itu pertimbangan rasional. Tapi kalau anda membeli mobil untuk menyaingi tetangga, maka pembelian itu tidak rasional.
Dari contoh di atas dapat kita lihat bahwa seseorang itu kalau ingin membeli sesuatu ada alasannya. Alasan inilah yang menimbulkan kebutuhan (needs) untuk membeli barang tertentu. Ada bermacam-macam kebutuhkan manusia diantaranya :
a. Kebutuhan Untuk Dapat Bertahan Hidup.
Di sini, yang terpenting adalah bagaimana dapat bertahan untuk hidup, maka kebutuhan yang utama adalah makan dan minum. Apapun akan dilakukannya agar bisa terjamin makan dan minum. Kalau kebutuhan pokok itu sudah terpenuhi, baru melangkah kepada kebutuhan berikutnya, yaitu kebutuhan akan pakaian untuk menutup badan, supaya tahan dari cuaca dingin atau panas.
Ini juga berlaku bagi wisatawan. Wisatawan yang jaun dari rumah tempat kediamannya, selama dalam perjalanan wisata yang dilakukannya, kebutuhan primer itu harus sedia sesuai dengan pelayanan yang diinginkan. Sebagai konsumen, ia berani membayar untuk itu, yang penting baginya adalah tersedianya makanan yang sesuai dengan kebutuhannya dan seimbang dengan uang yang dibayarnya.
Di sinilah pentingnya kita mengetahui kebutuhan wisatawan dalam perjalanan dan jangan lupa, tiap wisatawan mempunyai selera yang berbeda.
Kita sebagai penjual, harus selalu menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang beraneka ragam itu, dengan demikian pelayanan yang akan diberikan menjadi semakinb sempurna. Tapi untuk wisatawan yang tengah dalam perjalanan wisata, apakah kebutuhannya hanya terbatas pada makan dan minum seperti manusia pimitif itu tadi?.
Kalau boleh kita urutkan kebutuhan wisatawan dalam perjalanan, maka tingkat kebutuhannya adalah sebagai berikut :
Kebutuhan 1 :
Tersedianya fasilitas transportasi yang dapat mengantarkannya dari suatu negara ke negara lain atau dari suatu kota ke kota lain, karena tanpa transportasi, perjalanan wisata itu tidak mungkin ia lakukan.
Kebutuhan 2 :
Tersedianya kesempatan makan dan minum selama dalam perjalanan wisata yang dilakukannya. Untuk itu diperlukan restoran, rumah makan, warung yang menyediakan makanan dan minuman.
Kebutuhan 3 :
Tersedianya akomodasi hotel, motel, home stay, atau apapun namanya yang dapat digunakan untuk tempat tinggal sementara di tempat yang ia kunjungi.
Kebutuhan 4 :
Tersedianya program acara seperti City Sight Seeig, Local Tour, Rekreasi, kunjungan ke museum dan lain-lain. Ini sangat penting. Wisatawan datang pada suatu DTW tidak hanya untuk di hotel, tetapi dia tidur di hotel dalam rangka ingin melihat sesuatu (something to see), melakukan sesuatu (something to do), dan membeli sesuatu (something to buy).

Tanpa ke empat unsur diatas, orang tidak bisa melakukan perjalan wisata, dan bahkan kalau salah satu unsur saja tidak ada, maka perjalanannya tidak bisa disebut sebagai perjalanan wisata. Kalau hanya menggunakan transportasi saja, ia lebih tepat disebut seorang “traveller”. Kalau dia hanya tidur di hotel atau melihat obyek wisata saja, dia lebih tepat dikatakan melakukan rekreasi saja.

b. Kebutuhan untuk Berbudaya atau Kemewahan
Zaman berubah, manusia pun bertingkah. Akibatnya kemajuan ekonomi, dan teknologi, tingkat kemakmuran manusia juga meningkat. Pendapatan yang meningkat membuat kebutuhan orang juga semakin meningkat.
Kalau kebutuhan akan makan sudah dipenuhi, orang akan berusaha untuk mendapatkan pakaian dan rumah yang layak. Kalau rumah sudah dimiliki, orang ingin punya perlengkapan rumah, punya TV, kulkas, mesin cuci, AC, dan kalau itu sudah dipenuhi, ingin punya telepon dan kemudian ingin punya mobil.
Kebutuhan itu disebut sebagai kebutuhan berbudaya atau kebutuhan untuk memiliki kemewahan. Ternyata kebutuhah itu tidak berhenti di situ saja. Setelah memiliki semua itu, timbul lagi keinginan baru, seperti keperluan untuk ibadah haji, pergi umroh, atau perjalanan wisata.
Perjalanan wisata itu pun bertingkat-tingkat. Kalau sudah ke Yogya, ingi ke Bali. Sesudah itu ingin ke Danau Toba atau ke tanah Toraja. Yang namanya manusia, kepuasan itu tidak ada henti-hentinya. Sudah bosan melakukan perjalanan wisata di dalam negeri, timbul keinginan untuk pergi ke luar negeri.
Itulah yang disebut sebagai kebutuhan berbudaya atau kemewahan. Suatu ciri kebutuhan ini, setelah kebutuhan budaya terpenuhi, timbul rasa tidak puas dan kemudian timbullah kebutuhan kemewahan, seperti berbelanja dan berpergian bersenang-senang melihat negeri orang yang aneh-aneh dan unik.
Jadi, motivasi pembelian itu sangat beragam, tergantung pada orangnya, namun biasanya motivasi orang melakukan pembelian, secara umu adalah :
1) Kebutuhan untuk hidup (kebutuhan utama)
2) Kebutuhan untuk keamanan dan kesehatan
3) Kebutuhan bergaul dengan orang lain, bersahabat dan dikenal oleh orang lain.
4) Kebutuhan akan seks dan teman hidup
5) Kebutuhan akan kemewahan
6) Kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan.
7) Kebutuhan kasih sayang, perhatian dari orang tua.
8) Kebutuhan berkuasa, diakui, dikenal atau dilindungi.
9) Kebutuhan bebas bertindak, merdeka, menentukan.

Source : Psikologi Pelayanan Wisata, Drs. H. Oka A. Yeeti, MBA, PT Gramedia Pustaka Utama

Selasa, 27 Januari 2009

PROSES KEWIRAUSAHAAN

A. Faktor-faktor Pemicu Kewirausahaan

David C. McClelland (1961:207), mengemukakan bahwa kewirausahaan (entrepreneurship) ditentukan oleh motif berprestasi (achievement), optimisme (optimism), sikap-sikap nilai (value attitude) dan status kewirausahaan (entrepreneurial status) atu keberhasilan. Sedangkan menurut Ibnoe Soedjono dan Roopke, proses kewirausahaan atau tindakan kewirausahaan (entrepreneurial action) merupakan fungsi dari property right (PR), competency/ability(C), incentive(I), dan external environment (E).

Perilaku kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor itu adalah hak kepemilikan (property right, PR), kemampuan/kompetensi (competency/ability, C), dan insentif (incentive), sedangkan faktor eksternalnya meliputi lingkungan (environment, E).

Kemampuan berwirausaha (entreprenerial) merupakan fungsi dari perilaku kewirausahaan dalam mengkombinasi kreativitas, inovasi, kerja keras, keberanian menghadapi risiko untuk memperoleh peluang. Kewirausahaan, Suryana (2000: 34)



B. Model Proses Kewirausahaan

Proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi adalah kegiatan kreatif untuk menciptakan suatu konsep yang baru untuk keperluan baru untuk diwujudkan dan diimplementasikan menjadi bisnis yang sukses. Inovasi adalah suatu fungsi khusus dari kewirausahaan, kegiatan yang membawa sumber daya dengan kapasitas baru untuk menciptakan kesejahteraan. Hal terpenting dari inovasi adalah gagasan, penerapan, dan kegunanaan. Inovasi tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Secara internal inovasi dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari individu seperti: locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, dan pengalaman. Sedangkan secara eksternal seperti: pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan.

Pada tahap perintisan kewirausahaan, maka pertmbuhan kewirausahaan sangat tergantung pada kemampuan pribadi, organisasi dan lingkungan. Faktor yang berasal dari pribadi ialah komitmen, visi, kepemimpinan, dan kemampuan manajerial. Faktor yang berasaal dari organisasi antara lain: kelompok, struktur budaya dan strategi. Faktor lingkungan antara lain: pesaing, pelanggan, pemasok dn lembaga-lembaga keuangan yang akan membantu dana. “Mengembangkan Spirit Entrepreneur Muda Indonesia”, Arman, Bustanul dan Muh. Noer (1-23)

C. Proses Kewirausahaan

Proses kewirausahaan meliputi hal-hal yang lebih dari sekedar melaksanakan kegiatan pemecahan masalah dalam sebuah posisi manajemen. Seorang wiausaha perlu mencari, mengevaluasi serta mengembangkan peluang-peluang dangan jalan mengatasi sejumlah kekuatan yang menghalangi penciptaan sesuatu hal yang baru.

Proses aktual itu sendiri memiliki empat fase khusus, yaitu:

1) Identifikasi dan Evaluasi Peluang Yang Ada
Evaluasi peluang merupakan elemen yang paling kritikal dari proses kewirausahaan karena memungkinkan seorang wirausaha apakah produk atau servis khusus dapat menghasilkan hasil yang diperlukan untuk sumber-sumber yang bermanfaat bagi seorang wirausaha guna mengidentifikasi peluang-pelung bisnis:
a) para konsumen
b) serikat dagang
c) para anggota sistem distribusi
d) orang-orang yang berkecimpung dalam bidang teknik

2) Kembangkan Rencana Bisnis
Dalam hal mempersiapkan rencana bisnis adalah penting untuk memahami persoalan-persoalan inti yang terlibat di dalamnya. Karakteristik-karakteristik dan besarnya segmen pasar, syarat-syarat produksi, rencana finansial, rencana organisasi, dan syarat finansial.

3) Sumber-sumber Daya Yang Diperlukan
Sumber-sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkan peluang yang ada perlu di ketahui proses tersebut diawali dengan tindakan penilaian sumber-sumber daya wirausaha yang dimiliki. Dalam konteks ini buakn saja perlu diidentifikasi para pensuplai alternatif sumber-sumber daya tersebut. Tetapi pula kebutuhan serta keinginan mereka. Melalui pemahaman kebutuhan para pensuplai sumber-sumber daya tersebut, seorang wirausaha dapat menstruktur sebuah persetujan (a deal) yang memungkinkannya mendapatkan sumber-sumber daya tersebut dengan biaya serendah mungkin.

4) Laksanakan Manajemen Usaha Tersebut
Setelah sumber-sumber daya dicari, maka sang wirausaha perlu mengaktifkannya melalui implementasi rencana bisnisnya. Hal tersebut mencakup kegiatan yang mengimplementasi sebuah gaya dan struktur manajemen. Winardi, Entrepreneur& Entrepreneurship (188-193)




D. Ciri-ciri Penting Tahap Permulaan dan Pertumbuhan Kewirausahaan

Pada umumnya proses pertumbuhan kewirausahaan berkembang melalui tiga proses, yaitu:

(1) Proses imitasi dan duplikasi (imitating and duplicating). Pada tahap ini, wirausaha mulai meniru ide-ide orang lain, misalnya: memulai usaha barunya diawali dengan meniru usaha orang lain, dalam menciptakan jenis barang yang dihasilkan meniru yang sudah ada.

(2) Proses duplikasi dan pengembangan (duplicating and development). Pada tahap ini, wirausaha mulai mengembangkan ide barunya. Dalam tahap duplikasi produksi, wirausaha mulai mengembangkan produksinya melalui deversifikasi dan diferensiasi denagn model sendiri.

C. Proses penciptaan (creating) atau disebut proses inovasi dan kreasi yang diawali dengan teknik produksi baru, mencari bahan baku baru, organisasi usaha baru, dan metode pemasaran baru seperti halnya proses inovasi dari schumpeter(1934)

D. Dilihat prosesnya, Zimmerer (1996: 15-16) membagi tahap perkembangan wirausaha menjadi dua, yaitu: (a) Tahap awal (perintisan) (b) Tahap pertumbuhan


E. Langkah Menuju Keberhasilan Wirausaha

Untuk menjadi wirausaha yang sukses, pertama-tama harus memiliki ide atau visi bisnis (business vision) yang jelas, kemudian ada kemauan dan keberanian untuk menghadapi risiko baik waktu maupun uang. Apabila ada kesiapan dalam menghadapi risiko, lngkah berikutnya adalah membuat perencanaan usaha, mengorganisasikan dan menjalankannya. Agar usaha berhasil, selain harus kerja keras sesuai urgensinya, wiarausaha harus mampu mengembangkan hubungan, baik dengan mitrausaha maupun dengan semua pihak yang terkait dengan kepentingan perusahaan.

Dalam mengidentifikasi jiwa wirausaha ada beberapa aspek yang mempengaruhi yaitu:
a) Lebih suka risiko yang moderet
b) Menyenangi pekerjaan yang berkaitan dengan proses mental dengan tujuan utama adalah pencapaian prestasi
c) Locus of control internal. Individu yang memiliki locuc of control internal adalah individu yang memiliki insiatif tinggi, suka bekerja, berusaha mengatasi masalah dengan mencari akar penyebabnya secara efektif
d) Kemampuan inovasi dan kreatifitas. Kreatifitas lebih mengacu kepada idea origination, sedangkan inovasi lebih kepada idea implementation. Sebagai inovator, seorang wirausaha tdk harus memakai ide sendiri, tetapi dengan kepekaan yang tinggi dan kemampuan analisis yang baik mampu menggabungkan dan memakai ide yang telah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
e) Cenderung berpikir panjang, memiliki potensi melakukan visi yang jauh ke depan. Wirausahawan harus bersifat inpulsif, bukan atas dorongan sesaat dan keberhasilah hanya pada jangka pendek. Akan tetapi, wirausaha memiliki perencanaan yang seksama serta kendali diri yang fleksibilitas terhadap perubahan lingkungan.
f) Kemandirian. Wirausaha adalah seorang yang merdeka lahir batin, lebih suka bekerja atas kemampuan sendiri. Kemandirian ini didukung dengan kepedulian pada orang lain yang berara pada lingkungan, menerima kritik dn saran dari orang lain.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jiwa kewirausahaan adalah:
1) Intelegensi .Yaitu kemampuan individu secara sadar untuk menyesuaikan pemikirannya tehadap tuntutan baru, yaitu penyesuaian mental terhadap masalah dan keadaan baru. Intelegensia terkait denagn pemecahan masalah perencanaan, pengejaran prestasi yang sangat berarti membuka jiwa wirausaha.
2) Latar belakang budaya. Manusia tidak lepas dari lingkungan sekitar, sehingga mereka secara tidak langsung dibatasi oleh norma/nilai budaya setempat. Kebudayaan adalah cara manusia membentuk dan menentukan prilaku manusia.
3) Jenis kelamin. Pria dilambangkan agresif, independensi, ambisius, sedangkan wanita dilambangkan sensitif, kooperatif, dan intitutif.
4) Tingkat pendidikan
5) Usia
6) Pola asuh keluarga

F. Tantangan Berwirausaha

Memulai dan mengoperasikan bisnis biasanya memerlukan kerja keras, menyita banyak waktu dan membutuhkan kekuatan emosi. Wirausaha mengalami tekanan pribadi yang tidak menyenangkan seperti kebutuhan untuk menginvestasikan lebih banyak waktu dan tenaganya. Kemungkinan gagal dalam bisnis adalah ancaman yang selalu ada bagi wirausaha. Wirausaha harus menerima berbagai risiko yang berhubungan dengan kegagalan bisnis. Tak seorang pun yang ingin gagal, tetapi selalu ada kemungkinan bagi orang yang memulai suatu bisnis.


G. Faktor Penyebab Keberhasilan dan Kegagalan Wirausaha

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, keberhasilan dan kegagalan wirausaha sangat tergantung pada kemampuan pribadi wirausaha. Zimmerer (1996: 14-15) mengemukakan beberapa faktor-faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya:
(1) Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memilki kemampuan manajerial dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama membuat perusahaan kurang berhasil.
(2) Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber-sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
(3) Kurang dapat mengendalikan keuangan. Yaitu dengan memelihara aliran kas , mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran kas akan menghambat operasional perusahaan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
(4) Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
(5) Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasialn usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
(6) Kurang pengawasan peralatan.Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan efektivitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat yang tidak efisien dan tidak efektif.
(7) Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal adalah besar.
(8) Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan. Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, maka ia tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu mmbuat peralihan setiap waktu.

Selain faktor-faktor yang membuat kegagalan kewirausahaan, Zimmerer (1996: 17) mengemukakan beberapa potensi yang membuat seseorang mundur dari kewirausahaan, yaitu:
(1) Pendapatan yang tidak menentu. Baik pada tahap awal maupun tahap pertumbuhan, dalam bisnis tidak ada jaminan untuk terus memperoleh pendapatan yang berkesinambungan. Dalam kewirausahaan, sewaktu-waktu adalah rugi dan sewaktu-waktu juga ada untungnya. Kondisi seperti inilah yang membuat seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha.
(2) Kerugian akibat hilangnya modal investasi. Tingkat kegagalan bagi usaha baru sangatlah tinggi. Kegagalan investasi mengakibatkan seorang mundur dari kegiatan wirausaha. Bagi seorang wirausaha sebaiknya dipandang sebagai pelajaran berharga.
(3) Perlu kerja keras dan waktu yang lama. Wirausaha biasanya bekerja sendiri dari mulai pembelian, pengolahan, penjualan, dan pembukuan.Waktu yang lama dan keharusan bekerja keras dalam berwirausaha mengakibatkan orang yang ingin jadi wirausaha menjadi mundur. Ia kurang terbiasa menghadapi tantangan.Wirausaha yang berhasil pada umumnya menjadikan tantangan sebagai peluang yang harus dihadapi dan ditekuni.
(4) Kualitas kehidupan yang tetap rendah meskipun usahanya mantap. Kualitas kehidupan yang tidak segera meningkat dalam usaha, akan mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha.


H. Keuntungan dan Kerugian Berwirausaha
Adapun keuntungan dalam berwirausaha adalah:
(1) Imbalan berupa laba. Bebas dari batasan gaji standar untuk pekerjaan distandardisasikan. Wirausaha mengharap hasil yang tidak hanya mengganti kerugian waktu dan uang yang mereka investasikan, tapi juga memberikan imbalan yang pantas bagi risiko dan inisiatif yang mereka ambil dalam mengoperasikan bisnis mereka sendiri. Tidaklah mengejutkan imbalan berupa laba adalah motivasi yang lebih kuat dari wirausaha tertentu.
(2) Imbalan berupa kebebasan. Bebas dari pengawasan dan aturan birokrasi organisasi, Kebebasan untuk menjalankan secara bebas perusahaannya merupakan imbalan lain dari seorang wirausaha. Kenyataannya banyak wirausaha tidak mengutamakan fleksibelitas di satu sisi saja. Akan tetapi, wirausaha pada umumnya menghargai kebebasan yang ada dalam karir kewirausahaan. Mereka dapat mengerjakan urusan mereka dengan cara sendiri.
(3) Imbalan berupa kebebasan menjalani hidup. Bebas dari rutinitas, kebosana dan pekerjaan yang tidak menantang. Wirausaha sering kali menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan dalam menjalankan bisnisnya sendiri. Kenikmatan yang mereka dapatkan mungkin berasal dari kebebasan mereka, tapi pada kenikmatan tersebut merefleksikan pemenuhan kerja pribadi pemilik pada barang dan jasa perusahaan. (Kewirausahaan Manajemen Usaha Kecil: Justin,Carlos & J.William, 2001 : 7-9)

Kerugian dalam berwirausaha adalah:
(1) Pengorbanan personal. Pada awalnya wirausaha harus bekerja pada waktu yang lam dan sibuk. Sedikit sekali waktu untuk kepentingan keluarga, rekreasi. Hampir semua waktu dihabiskan untuk kegiatan bisnis.
(2) Beban tanggung jawab. Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik pemasaran, keuangan, personil maupun pengadaan dan pelatihan.
(3) Kecilnya margin keuntungan dan kemungkinan gagal. Karena wirausaha menggunakan keuangan yng kecil dan keuangan milik sendiri, maka margin laba/keuntungan yang diperoleh akan relatif kecil dan kemungkinan gagal juga ada.



I. Cara Menghindari Kegagalan dalam Berwirausaha

Kita telah melihat alasan-alasan yan paling umum di balik kegagalan berwirausaha. Sekarang kita harus mempelajari cara menghindari dari kegagalan dan memperoleh wawasan mengenai hal-hal yang membuat suatu usaha tersebut dapat berhasil. Saran-saran untuk keberhasilan berasal dari sebab-sebab kegagalan.
1. Mengenali Bisnis Anda Secara Mendalam. Kita memerlukan pengalaman yang relevan dalam bisnis yang akan didirikan. Dapatkan pendidikan terbaik yang mungkin diperoleh di bisnis itu sebelum membuka bisnis sendiri. Baca segala macam yang mungkin misalnya, majalah bisnis, jurnal niaga, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis yang akan dimasuki. Hubungan pribadi dengan pemasok, pelanggan, perkumpulan bisnis, dan kegiatan lainnya dalam industri yang samaadalah cara lain yang baik untuk memperoleh pengetahuan itu.

2. Menembangkan Rencana Bisnis yang Matang. Untuk wirausahawan yang baru, rencana bisnis yang ditulis dengan baik adalah resep yang sangat penting untuk keberhasilan bisnis. Tanpa rencana bisnis yang matang, perusahaan berjalan tanpa arah yang jelas. Namun para wirausahawan, yang cenderung menjadi orang yang cepat bertindak, sering kali langsung lompat ke suatu usaha bisnis tanpa meluangkan waktu untuk menyiapkan rencana tertulis yang meluangkan pokok-pokok kegiatan bisnisnya. Tetapi rencana bisnis yang seksama dan informasi keuangan yang tepat merupakan hal yang kritis. Ini semua akan membantu dalam mengambil keputusan yang penting mengenai bisnis.dan harus terus menerus memantau apa yang telah dicapai sesuai yang telah direncanakan.

3. Mengelola Sumber Daya Keuangan. Pertahanan terbaik dalam menghadapi persoalan keuangan adalah denagn mengembangkan sistem informasi keuangan dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk pengambilan-pengambilan keputusan bisnis. Tidak ada wirausahawan yang dapat mengendalikan bisnisnya tanpa mengetahui kesehatan bisnisnya.

Langkah pertama dalam mengelola bisnis secara efektif adalah dengan memiliki modal permulaan yang cukup. Terlalu banyak wirausahawan yang memulai bisnis dengan modal yang terlalu kecil. Sedangkan sumber daya yang paling berharga untuk bisnis kecil adalah uang tunai. Memang menghasilkan laba itu penting untuk dapat bertahan dalam jangka panjang, tetapi sebuah perusahaan harus cukup memiliki uang untuk membayar tagihan dan kewajiban lainnya. Beberapa wirausahawan mengandalkan pertumbuhan penjualan untuk menutupi kebutuhan dana perusahaan, tetapi hal ini hampir tidak pernah terjadi. Perusahaan yang sedang tumbuh biasanya memerlukan lebih banyak uang tunai daripada yang dihasilkannya dan semakin meningkatannya, semakin banyak pula menghabiskan uang.

4. Memahami Laporan Keuangan. Setiap pemilik bisnis harus mengandalkan catatan dan laporan keuangan untuk mengetahui kondisi keuangan bisnisnya. Hampir selalu catatan-catatan ini hanya digunakan untuk keperluan pajak dan tidak dimanfaatkan sebagai alat pengendali yang vital. Untuk benar-benar mengenal apa yang terjadi dalam bisnis, seorang wirausaha paling tidak harus mempunyai pemahaman dasar mengenai akuntansi dan keuangan.

Apabila dianalisa dan ditafsirkan dengan benar, laporan-laporan keuangan ini merupakan indikator-indikator yang dapat dipercaya mengenai kesehatan perusahaan kecil. Laporan-laporan ini cukup membantu dalam memberi peringatan adanya masalah. Sebagai contoh, penurunan penjualan, tidak tercapainya laba, membengkaknya utang, dan menyusutnya modal kerja, yang semoanya merupakan gejala adanya masalah yang berpotensi mematikan yang membutuhkan perhatian segera.

5. Belajar Mengelola Manusia Secara Efektif. Tidak menjadi soal apa jenis bisnis yang akan dilakukan, tetapi harus dapat mempelajari cara mengelola manusia. Setipa bisnis tergantung pada landasan karyawan yang terlatih baik dan termotivasi. Tidak ada pemilik bisnis dapat mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Orang-orang yang diperkerjakan oleh sang wirausahawan pada akhirnya akan menentukan seberapa jauh perusahaan akan berkembang atau seberapa jauh perusahaan akan jatuh. Meskipun demikian, merekrut dan mempertahankan suatu korps karyawan yang bermutu bukanlah tugas yang mudah. Persoalan ini selalu merupakan tantangan begi setiap pemilik bisnis.

6. Menjaga Kondisi Diri. Keberhasilan suatu bisnis akan tergantung peda keberadaan dan perhatian secara terus-menerus, oleh sebab itu seoarang wirausahawan perlu memantau kesehatan diri denagn cermat. Stres merupakan masalah utama, terutama bila tidak dikendalikan. Karyawan juga bisa menderita masalah kesehatan. Beberapa bisnis mendapatkan bahwa program kebugaran tubuh yang disponsori perusahaan akan efektif secara biaya. Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil, Thomas W Zimmerer & Norman M. Scarborough (second edition, 28-29)



DAFTAR PUSTAKA

Suryana, Kewirausahaan, Salemba Empat, 2003.
Winardi, Entrepreneur& Entrepreneurship, hal. 188-193
Arman, Bustanul dan Muh.Noer, hal. 1-23, Mengembangkan Spirit Entrepreneur Muda Indonesia.
Justin, Carlos & J.William, hal. 7-9, Kewirausahaan Manajemen Usaha Kecil.
Zimmerer, W. Thomas M. Scarborough.1996, Entrepreneurship and The New Venture Formation. New Jersey: Prentice Hall International Inc. hal. 14,16,17.
Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil, Thomas W Zimmerer & Norman M. Scarborough, second edition, 28-29)

Selasa, 16 Desember 2008

Pendapatan dan Biaya Operasi

Pendapatan merupakan penghasilan yang ditimbulkan dari kegiatan yang dilaksanakan perusahaan seperti : penyerahan jasa pemberian izin kepada pihak lain untuk menggunakan semberdaya perusahaan yang ditukar dengan bunga, sewa, royalty atau bentuk balas jasa lainnya.

1.Pengertian Pandapatan Menurut Akuntansi
Pendapatan dapat diartikan sebagai penghasilan yang diperoleh dari suatu kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Pendapatan sering diartikan berbeda-beda menuurt ahli karena pandang yang berbeda-beda. Simamora (1999:24) menyatakan : “Pendapatan (revenue) adalah kenaikan aktiva perusahaan atau penurunan kewajiban perusahaan (atau kombinasi dari keduanya) selama periode tertentu yang berasal dari pengiriman barang-barang, penyerahan jasa, atau kegiatan-kegiatan lainya yang merupakan kegiatan sentral perusahaan”.

Menurut PSAK No. 23.2 pengertian pendapatan sebagai berikut : Pendapatan adalah aruus masuk bruto, dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktifitas normal perusahaan selam suatu periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”.

Sedangkan FASB mendefenisikan pandapatan adalah :
“Pendapatan adalah suatu arus masuk atau kenaikan-kenaikan lainnya dari niali harta usaha atau perhentian hutang-hutangnya (atau kombinasi dari keduanya) dalm suatu periode akibat dari penyerahan atau prouksi barang-barang, penyerahan jasa-jasa, atau pelaksanaan aktivitas-aktivitas lainnya yang membentuk operasi-operasi utama atau sentral yang berlanjutan terus dari satuan usaha tersebut”. (Smith dan Skousen, 1992:119)

Selanjutnya dapat diartikan bahwa kemampuan ekonomis adalah kemampuan yang didasarkan atas ukuran dengan daya yang nyata, bukan dengan daya beli uang. Pada penjelasan moenaf H. Regar (1995:19) menyatakan : “ Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan wajib pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan wajib pajak tersebut untuk ikut bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegaiatan rutin dan pembangunan”.

2. Pengeritan Biaya Operasi
Biaya merupakan unsure pentingnya dalam menjalankan segala kegiatan operasi perusahaan, karena biaya harus tersebut dahulu dikeluarkan sebelum menghasilkan suatu produk, baik berupa barang maupun jasa.
Menurut Supriyono (1992 : 16) biaya dapat didefenisikan sebagai berikut : “Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh pendapatan yang dipakai sebagai pengurangan pendapatan (income) yang meliputi harga pokok penjualan, biaya adminstrasi umum, biaya bunga dan biaya pajak perseroan”.
Pengertian biaya menurut Sinuraya (1990 : 16) adalah : “Keseluruhan pengorbanan yang tidak dapat dihindarkan sehubungan dengan kegiatan perusahaan”.

B. Pengakuan pendapatan
Seperti yang telah diuraikan pada bab-bab yang terdahulu bahwa pendapatan dan biaya sangat penting diperhatikan kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada pendapatan yang diperoleh serta menekan biaya yang seminimal mungkin, pendapatan dan biaya dapat juga dikatakan sebagaii alat ukur keberhasilan atau kemunduran perusahaan.

Dalam stander ajuntansi keuangan, pengakuan pendapatan denganacuan pada tingkat penyelesaian dari suatu transaksi sering disebut presentase penyelesaian, menurut metode ini pendapatan diakui dalam periode akuntasi pada saat jasa diberikan.

Pengakuan pendapatan dapat dilakuakn dengan dua cara. Hal ini dikemukankan oleh smith Skousen dalam buku intermedit mengakui pendapatan dalam dua cara yaitu :
Pengakuan pendapatan sebelum penyerahan bat\rang/pelaksanaan jasa.
Pengakuan pendapatan sesudah penyerahan barang/pelaksanan jasa

Ad. 1. pengakuan pendapatan sebelum penyerahan barang/pelaksanan jasa.
Dalam keadaan tertentu, pendapatan dapat dilaporkan sebelum penyerahan barang/penyelesaian suatu kontrak jasa. Biasanya hal ini terjadi apabila jasa relative yaitu dari satu tahun.

Ad. 2. Pengkuan pendapatan sesudah penyerahan barang / pelaksaan jasa.
Dalam hal ini pengakuan tidak boleh diakui sebelum proses pendapatan benar-benar selesai pada saat penyerahan barang / pelaksana jasa. Dalam hal-hal tertentu timbul keadaan yang sangat tidak pasti yang meliputi suatu transaksi pendapatan yaitu mengenai penerimaan kas memberi kesan bahwa pengakuan pendapatan harga menunggu pemenerima jasa yang sebenarnya.

C. Pengukuran Pendapatan
Ada dua metode pengukuran dan pengakuan pendapatan dalm akuntansi yang lazim digunakan selam ini yaitu : metode accrual basis dan metode cash basis. Dalam metode basis ini pendapatan diakui pada saat terjadinya transaksi, pendapatan yng diterapkan dalam ketentuan / perjanjian lainnya yang dibuat dan langsung diakui sebagai pendapatan saat disetujui perjanjian / ketentuan tersebut. Dengan metode accrual basis ini pendapatan sebenarnya mencerminkan penerimaan kas yang sebenarnya terjadi dalam periode tersebut.

D. Pengakuan Biaya
Menurut prinsip akuntansi pengakuan biaya dapat dilakukan dengan dua metode yaitu :
a. Dasar kas (cash basis) : Suatu pengakuan biaya yang telah dibayar perusahan yang mempunyai sedikit piutang usaha dan hutanmg usaha, termasuk professional yang ber[raktek dapat menggunakn dasr ini.
b. Dasar akrual (accrual basis) : Biaya yang diakui dalam periode yang terjadi selama dalam proses untukmenghasilkan pendapatan.