Rabu, 04 Juni 2008

Aktiva Tetap

Menurut Munawir (2002:139), aktiva tetap adalah : ” aktiva berwujud yang mempunyai umur relatif permanen (memberikan manfaat kepada perusahaan) selama bertahun-tahun yang dimiliki dan digunakan untuk operasi sehari-hari dalam rangka kegiatan normal dan tidak dimaksudakan untuk dijual kembali (bukan barang dagangan) serta nilainya relatif material”.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002 : 80), bahwa “ Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu , yang dapat digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun “.

Menurut Suharli (2006:259), Aktiva tetap adalah : ” harta berwujud (tangible assets) yang memiliki masa manfaat ekonomis lebih dari satu tahun, bernilai material, dan digunakan untuk kegiatan operasi normal perusahaan”.

Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada prinsipnya yang dimaksud dengan aktiva tetap adalah semua kekayaan atau aktiva yang dimiliki perusahaan masa kegunaan lebih dari satu periode akuntansi yang tujuannya bukan untuk dijual dan digunakan untuk kegiatan operasi perusahaan.


Jenis Aktiva Tetap

Berdasarkan klasifikasinya aktiva tetap dapat dibedakan atas (Harahap, 2002: 22):

1) Tinjauan Umur

2) Tinjauan Substansi

3) Tinjauan Jenisnya

4) Tinjauan Disusutkan atau tidak

Ad. 1). Tinjauan Umur

Menurut umurnya aktiva tetap dapat dibedakan atas 2 (dua), yaitu:

a. Limited Life Plant Equipment

Adalah seluruh Plant Equipment yang memiliki umur terbatas misalnya bangunan, mesin, peralatan dan lain-lain. Karena Plant Equipment ini memiliki umur terbatas maka pada tiap akhir periode atau pada penutupan buku haruslah dihitung penyusutannya, sehingga sering disebut Depreciated Plant Equipment.

b. Unlimited Life Plant Equipment

Adalah Plant Equipment yang memiliki umur tidak terbatas, misalnya tanah. Sebagaimana diketahui bahwa tanah dapat dipakai dalam jangka waktu yang tidak terbatas sehingga tidak perlu disusutkan, karena itu sering disebut dengan Non Depreciated Plant assets.


Ad. 2). Tinjauan Substansi

Berdasarkan tinjauan substansi dapat dibedakan antara lain:

a. Tangible Assets atau aktiva berwujud berupa tanah, mesin, gedung dan peralatan.

b. Intangible Assets atau aktiva yang tidak berwujud berupa goodwill, hak patent, hak cipta, copyright, hak guna usaha dan lain-lain.

Ad.3). Tinjauan Jenis

Aktiva tetap berdasarkan jenisnya dapat dibagi sebagai berikut :

a. Tanah

Merupakan harta yang dimiliki dan dipergunakan selama kegiatan masih berlangsung, dapat dikatakan masa pemakaian tidak terbatas dan biasanya dijadikan sebagai tempat pendirian bangunan, mempunyai nilai harga pokok yang dibayarkan kepada sipenjual ditambah dengan biaya-biaya yang bersangkutan terhadap jual beli tanah.

b. Gedung

Merupakan bangunan yang dipakai untuk kegiatan usaha perusahaan. Adapun beban biaya yang ditanggung perusahaan dalam rangka memperoleh gedung dan dipakai dalam operasi perusahaan adalah total nilai beli ditambah biaya-biaya lain yang timbul dalam perolehan.

c. Mesin

Adalah semua peralatan yang digunakan untuk menjalankan operasi perusahaan, termasuk didalamnya bagian-bagian ataupun peralatan yang menjadi bagian dari mesin yang bersangkutan.

d. Kendaraan

Merupakan semua jenis kendaraan yang dimiliki perusahaan sebagai alat angkutan yang dapat menunjang operasional dari kegiatan perusahaan.

e. Perlengkapan Kantor

Merupakan perlengkapan kantor yang dipergunakan untuk mempercepat dan mempermudah semua kegiatan pencatatan ataupun mempermudah komunikasi antara satu kegiatan dengan bagian laiannya, maupun antara perusahaan dengan pihak lain, contohnya komputer, telepon.

f. Peralatan Kantor

Yaitu semua peralatan yang ada dikantor dan digunakan untuk melaksanakan semua kegiatan yang dilaksanakan di kantor.

Ad.4). Tinjauan Disusutkan atau tidak

Dapat dibedakan atas 2 (dua) kelompok, yaitu:

a. Depreciated Plant Assets, seperti gedung, peralatan, mesin, dan sebagainya.

b. Undepreciated Plant Assets, seperti tanah.

Metode Perolehan dan Penyusutan Aktiva Tetap

1. Metode Perolehan Aktiva Tetap

Pada umumnya setiap perusahaan memiliki aktiva tetap yang nilainya relatif lebih besar bila dibandingkan dengan aktiva lainnya yang dimiliki perusahaan, karena dalam perolehannya dibutuhkan dana yang besar. Proses perolehan disisi dimaksudkan mulai sejak pembelian, pengangkutan aktiva itu, pemasangan sampai aktiva itu siap untuk dipakai dalam proses produksi atau kegiatan perusahaan.

Dalam praktek bisnis, ada beberapa cara perolehan aktiva tetap, yaitu:

1. Pembelian Tunai

a. Aktiva yang dibeli dengan kontan dicatat sebesar uang yang dikeluarkan untuk pembelian itu ditambah dengan biaya-biaya lain sehubungan dengan pembelian aktiva itu, dikurangi potongan harga yang diberikan, baik karena pembelian dalam partai besar maupun karena pembayarannya yang dipercepat.

b. Jika potongan harga tidak dimanfaatkan perusahaan maka harus dilaporkan

sebagai Discount Lost atau Interest Expense.

c. Jika beberapa aktiva sekaligus dengan harga borongan (lump sum) maka harus dipisahkan nilai masing-masing aktiva.

2. Pembelian Kredit

Pembelian aktiva tetap secara kredit sudah tentu harganya lebih tinggi bila dibandingkan membeli secara tunai. Harga perolehan aktiva tetap yang didapat dari transaksi pembelian kredit diukur dengan jumlah uang (harga) yang dibayarkan apabila aktiva itu dibeli secara tunai (cash equivalent price).

Jika di dalam harga kontrak pembelian tidak secara spesifik dinyatakan adanya bunga yang dibebankan, maka pada dasarnya unsur bunga itu harus diperhitungkan dan dikurangkan dari harga kontrak di dalam menentukan harga perolehan aktiva yang bersangkutan.

Ada 2 (dua) kemungkinan pembelian bunga atas kredit, yaitu :

a. Secara flat

b. Berdasarkan sisa hutang

3. Aktiva yang Diperoleh dari Sumbangan atau Donasi

Adakalanya aktiva tetap suatu perusahaan diperoleh dari donasi atau hadiah maupun sumbangan pihak lain. Transaksi ini merupakan transaksi yang tidak memerlukan umpan balik yang disebut Non Recipcoral Transfer.

“ Aktiva ini harus dicatat sebesar harga pasar yang wajar atau sebesar penilaian yang dilakukan oleh pihak perusahaan penilai yang independent (appraisal company). Dan di kredit modal donasi (donated capital)”.

Aktiva tetap yang berasal dari sumbangan, baik itu sumbangan pemerintah maupun pihak lain, dinyatakan sebesar nilai bantuan ditambah semua pengeluaran yang dapat diidentifikasikan langsung dengan aktiva tetap tersebut.

4. Aktiva yang dibangun sendiri

Perusahaan sering membangun sendiri aktiva yang dibutuhkan. Hal ini disebabkan oleh 3 (tiga) hal yaitu :

a. Menekan biaya

b. Memanfaatkan fasilitas yang tidak terpakai (idle capacity)

c. Keinginan untuk mendapatkan mutu yang lebih baik.

5. Diperoleh secara pertukaran

Aktiva tetap menurut cara ini diperoleh dengan cara menukarkan aktiva tetap yang kita miliki dengan aktiva tetap yang dimiliki oleh pihak lain. Transaksi pertukaran bias bersih tanpa tambahan-tambahan lain atau dapat juga ditambah dengan transaksi tambahan lainnya seperti kas.

6. Dibeli dengan kontrak jangka panjang

Kebanyakan transaksi pembelian aktiva tetap dilakukan dengan jangka panjang. Pembelian ini dilakukan dengan berdasarkan suatu kontrak perjanjian yang pembayarannya dilakukan secara angsuran atau cicilan.

Pada umumnya, aktiva tetap yang dibeli secara angsuran harganya lebih tinggi dibandingkan dengan pembelian tunai. Dalam sistem ini, bunga yang dibayarkan hutang yang belum dibayar dicatat sebagai biaya bunga. Mengingat bahwa dari pembayaran cicilan sudah termasuk bunga maka pembayaran dilakukan dengan berapa kali angsuran ditambah bunga. Sisa hutang dibuktikan melalui wesel bayar atau hutang hipotek.

Adakalanya aktiva tetap perusahaan dibangun oleh pihak ketiga dengan syarat pembayaran secara bertahap, maka hal tersebut dimulai berdasarkan presentasi fisik pekerjaan yang telah diselesaikan sesuai dengan berita acara, kemajuan fisik pekerjaan dan pencatatan sebagai aktiva tetap dalam konstruksi.

2. Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002 : 80) penyusutan adalah :

“Alokasi sisitematik jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aktiva sepanjang masa manfaat”. enurut Munawir (2002 : 141) Penyusutan adalah :

”Proses pengalokasian cost atau harga perolehan aktiva tetap menjadi biaya selama masa manfaatnya dengan cara yang rasional dan sistematik”. Menurut Suharli (2006 : 264) Penyusutan adalah : “alokasi sistematik dan rasional jumlah yang dapat disusutkan sebagai beban dari suatu aktiva selama masa manfaat”.

Dari ketiga definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pengalokasian dan penyusutan dapat dilakukan secara sisitematik sepanjang penggunaannya. Penyusutan aktiva tetap dilihat dari aspek akuntansinya merupakan alokasi biaya harga perolehan aktiva tetap kepada periode-periode yan bersangkutan, namun bila ditinjau dari segi perbendaharaan, maka akumulasi penyusutan aktiva tetap merupakan pengumpulan dana untuk penggantian aktiva tetap setelah habis masa umur ekonomisnya, disamping juga merupakan penilaian atas nilai buku aktiva tetap yang bersangkutan.

Beberapa faktor yang menentukan beban penyusutan adalah :

1. Harga Perolehan

Yaitu jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imalan lain yang diberikan untuk mendapatkan suatu aktiva tersebut dalam kondisi dan tempat siap untuk digunakan.

2. Masa manfaat

Periode waktu dimana aktiva tersebut diharapkan dapat digunakan oleh perusahaan, atau jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aktiva oleh perusahaan.


3. Nilai Sisa

Nilai sisa adalah harga pasar taksiran dari aktiva tetap pada akhira masa manfaatnya. Manfaat taksiran menggambarkan kapasitas atau manfaat yang dapat diberikan oleh aktiva tetap selama dapat dipakai. Manfaat taksiran dapat dinyatakan dalam (1) lamanya jangka waktu penafsiran (usefulilife) dan (2) kapasitas produksi.

Beberapa Metode Penyusutan

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Metode garis lurus adalah metode yang paling sering digunakan dan paling sederhana. Dengan metode ini beban penyusutan tiap periode jumlahnya sama. Metode ini menciptakan transfer biaya yang layak kebeban periodik jika pemanfaatan biaya dan pendapatan yang terkait dari pemakaian itu sama dari periode ke periode.

Perhitungan penyusutan dengan cara garis lurus didasarkan pada anggapan-anggapan berikut :

  1. Kegunaan ekonomis dari suatu aktiva tetap akan menurun secara proporsional setiap periode.
  2. Biaya reparasi dan pemeliharaan tiap-tiap periode jumlahnya relatif sama.
  3. Kegunaan ekonomis berkurang karena lewat waktu.
  4. Penggunaan aktiva tiap-tiap tahun periode relatif sama.

2. Metode Jumlah Bilangan Tahun

Metode jumlah bilangan tahun adalah suatu penyusutan dimana besarnya penyusutan setiap tahun semakin menurun secara tetap daripada besarnya penyusutan di tahun sebelumnya. Beban penyusutan ini dihitung dengan cara menjumlahkan semua angka (digit) umur aktiva tersebut.

3. Metode Saldo Menurun

Dalam metode ini beban penyusutan dihitung dengan presentase tertentu yang dihitung melalui rumus tertentu dan kemudian dikalikan terhadap nilai. Oleh karena itu beban penyusutan semakin lama semakin mengecil.

4. Metode Jam Kerja Mesin (Service Hours Method)

Besarnya beban penyusutan setiap periode tergantung pada jumlah jam kerja aktiva tetap tersebut digunakan dalam operasi perusahaan, sehingga beban penyusutan setiap periode akan berbeda karena didasarkan pada jumlah jam kerja yang digunakan dari aktiva tersebut.

Untuk menghitung besarnya tarif penyusutan per jam jasa adalah :

r ( per jam ) =

Dimana : r = Tarif Penyusutan perjam jasa

HP = Harga Perolehan

NS = Nilai Sisa

n = Taksiran Jam Jasa

Dari hasil tersebut kemudian dikalikan dengan jumlah jam jasa yang digunakan dalam satu periode sehingga dapat diketahui jumlah penyusutan pada periode tersebut, demikian untuk seterusnya hingga mesin-mesin tersebut tidak dapat digunakan lagi.

5. Metode Hasil Produksi (Productive output Method)

Pada metode hasil produksi, umur aktiva tetap ditaksir dalam satuan unit jumlah produksi. Beban penyusutan dihitung dengan dasar satuan hasil produksi sehingga penyusutan setiap tahun akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi hasil produksi. Dasar teori yang dipakai adalah bahwa suatu aktiva tetap dimiliki untuk menghasilkan produk.

Untuk menghitung beban depresiasi produk, pertama kali dihitung tarif depresiasi untuk tiap unit sebagai berikut :

Depresiasi/unit =

Dimana : HP = Harga Perolehan

NS = Nilai Sisa

n = Taksiran unit Produksi selama penggunaan aktiva.

Dalam hasil tersebut kemudian dikalikan dengan jumlah yang diproduksi untuk suatu jumlah produksi tertentu sehingga dapat diketahui jumlah penyusutan pada periode tersebut. Jumlah depresiasi yang dihitung dengan metode ini sifatnya variabel karena jumlah yang diperoleh selalu berbeda untuk setiap produksi.

E. Metode Penilaian Investasi Aktiva Tetap

Ada beberapa metode penilaian proyek investasi atau metode-metode menyusun ranking usul-usul investasi diantaranya :

1. Payback Period

Menurut Munawir (2002 : 527) : ”payback period adalah waktu yang diperlukan suatu perusahaan untuk investasi mula-mula”. Payback period suatu investasi menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana yang tertanam dalam suatu investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya.

Arus kas bersih adalah selisih antara arus kas masuk dengan arus kas keluar atau dapat juga dihitung dari net operating income setelah pajak ditambah penyusutan. Dengan metode ini kita melihat kelayakan suatu peroyek diukur dari berapa lama proyek itu dapat mengembalikan investasi semula. Proyek yang dipilih adalah proyek yang dapat melunasi investasi mula-mula.

Metode ini sifatnya sangat sederhana dan ringkas sehingga banyak dipilih dalam perusahaan. Namun demikian memiliki banyak kelemahan diantaranya :

a) Tidak memperhatikan konsep nilai waktu uang.

b) Tidak memperhatikan aliran kas bersih setelah payback.

Selanjutnya apabila perusahaan harus memilih salah satu dari beberapa usulan investasi atas dasar metode ini, maka perusahaan akan memilih usulan investasi yang memiliki payback period yang lebih pendek. Apabila proceeds suatu investasi tidak sama besarnya dari tahun ke tahun, dengan sendirinya cara perhitungannya adalah harus terlebih dahulu menghitung proceeds dari tahun ke tahun, sehingga usulan investasi dapat diperoleh kembali.

2. Net Present Value

Kelemahan yang ada pada Payback Period akan ditutupi oleh metode ini. Oleh karena itu metode ini memperhatikan ” Time Value of Money ” maka proceeds yang digunakan dalam menghitung NPV adalah proceeds yang didiskontokan atas dasar biaya modal (rate of return) yang digunakan. Pertama-tama yang dihitung adalah nilai sekarang (present value) dari proceeds yang diharapkan atas dasar discount rate tertentu. Kemudian jumlah present value dari keseluruhan proceeds dengan Present Value dari pengeluaran modal dinamakan Net Present Value (NPV).

Apabila jumlah present value dari keseluruhannya proceeds yang diharapkan lebih besar daripada present value dari investasinya yang ini berarti bahwa NPV nya negatif maka usul investasi tersebut seharusnya ditolak. Apabila proceeds setiap tahunnya sama besarnya maka NPV dapat dihitung dengan mudah.

Apabila proceeds suatu investasi tidak sama basarnya dari tahun ke tahun, maka perusahaan harus menghitung nilai sekarang dari proceeds setiap tahunnya untuk kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh jumlah nilai sekarang dari keseluruhan proceeds yang diperoleh dari investasi tersebut.

3. Accounting Rate of Return ( ARR )

Accounting Rate of Return sering juga disebut dengan Average of Return yang menunjukkan presentase keuntungan netto sesudah pajak yang dihitung dari Average Investment atau Initial Investment. Metode ini pada dasarnya menghitung keuntungan yang dilaporkan dalam buku (reported accounting income).

Kebaikan dari metode ini adalah kesederhanaannya dan mudah dimengerti. Metode inidalam perhitungannya menggunakan data Accounting yang sudah tersedia sehingga tidak memerlukan perhitungan tambahan.

2 komentar:

  1. Maaf nanya Boss........
    AKtiva tetap yg hasil sumbangan bisa disusutkan ga?
    Dasar Hukumnya dong...
    makasih ya...

    BalasHapus
  2. Saya TINTIN RAHMAYANTI Saya ingin menyaksikan karya bagus ALLAH dalam hidup saya untuk umat saya yang tinggal di sini di Indonesia, Asia dan di beberapa negara di seluruh dunia.
     Saat ini saya tinggal di Indonesia. Saya seorang wanita Bisnis dengan tiga anak dan saya terjebak dalam situasi keuangan di bulan DESEMBER 2017 dan saya perlu membiayai kembali dan membayar tagihan saya,
    Saya adalah korban penipuan pemberi kredit 4-kredit, saya kehilangan banyak uang karena saya mencari pinjaman dari perusahaan mereka. Saya hampir mati dalam proses karena saya ditangkap oleh orang-orang yang saya berutang, saya dibebaskan dan saya bertemu dengan seorang teman, yang saya jelaskan situasi saya dan kemudian mengenalkan saya ke perusahaan pinjaman ALEXANDER ROBERT LOAN FIRM yang andal.
    Bagi orang-orang yang mencari pinjaman? Jadi Anda harus sangat berhati-hati karena banyak perusahaan pinjaman di internet penipuan di sini, tapi mereka masih sangat nyata di perusahaan pinjaman palsu.
     Saya mendapat pinjaman dari ALEXANDER ROBERT LOAN FIRM sebesar Rp800.000.000 dengan sangat mudah dalam waktu 24 jam yang saya terapkan, jadi saya memutuskan untuk membagikan karya bagus ALLAH melalui ALEXANDER ROBERT LOAN FIRM dalam kehidupan keluarga saya. Saya saran jika anda membutuhkan pinjaman silahkan hubungi ALEXANDER ROBERT LOAN FIRM. hubungi mereka melalui email:. (alexanderrobertloan@gmail.com)
    Anda juga bisa menghubungi saya melalui email saya di (tinrahma222@gmail.com) jika Anda merasa sulit atau menginginkan prosedur untuk mendapatkan pinjaman.

    BalasHapus