Minggu, 27 Desember 2009

Life Excellence

Sekarang ini kita hidup di zaman multi krisis.Tidak heran jika manajemennya pun manajemen krisis. Dalam kondisi seperti ini banyak yang memakai prinsip 'pasrahisme’. Apa kata mereka? "Yang penting kita bisa hidup, yang penting kita bisa menerima", yaitu apa yang disebut dengan "nrimo mentality". Tidak ada ruang untuk protes, mentalitas menerima apa adanya. Sudahlah, apa pun yang terjadi kita harus terima, buat apa'ngoyo’, singkatnya demikian.

Tentu saja ini bukan yang dimaksud dengan istilah tawakal. Konsep tawakal itu akan terjadi setelah kita melewati proses ikhtiar plus doa.

Inilah yang disebut dengan stabilitas dimana dalam bertindak tidak lagi didasarkan kepada emosional, tapi dianalisis secara rasional dan diputuskan secara spiritual. Tidak sedikit diantara kita ketika menghadapi suatu masalah, serta merta langsung bersikap reaktif pada masalah tersebut. Kita menjadi orang yang "kagetan”. Contohnya ketika harga BBM naik kita bersegera antri di pom bensin secepat mungkin. Sebaliknya jika kita memiiiki stabilitas, jebakan emosional, tidak akan mengurung kita lagi. Dengan kata lain kita telah mampu bersikap proaktif.

Apa yang saya maksud dengan proaktif itu adalah kombinasi dari dua sifat. Yang pertama adalah inisiatif dan yang kedua adalah sensitif. Seorang yang Stability, dia mempunyai satu kepekaan/sensitivitas, kepekaan terhadap situasi, kapan harus bertindak, kapan harus berdiam diri. Kemudian yang kedua adalah inisiatif.
Yaitu kemampuan seseorang untuk mendahului sebuah pekerjaan/tugas sebelum didahului permintaan orang lain. Ada orang yang peka tetapi tidak berinisiatif. Ada orang yang berinisiatif tapi tidak didorong oleh rasa kepekaan. Untuk menyelaraskan keduanya anda perlu balancing tool. Yaitu daya intuisi. Ketika intuisi telah mampu melakukan link and match terhadap sensitivitas dan inisiatif, artinya telah mencapai kestabilan hidup.

"Stability" akan mernbawa kita pada wilayah sukses. Namun janganlah kita merasa bahwa jika telah sampai pada sukses, maka sudah selesai hidup kita.

Jadi, orang yang sukses adalah today is better than yesterday. Hari ini lebih baik dibandingkan yang terdahulu dan tentu saja tomorrow will be better than today, hari esok akan lebih baik dibandingkan hari ini,

Di dalam suatu diagram kebutuhan manusia, kebutuhan yang paling rendah adalah pemenuhan kebutuhan biologis dan yang tertinggi adalah aktualisasi diri. Seorang yang sukses adalah seorang yang sudah mencapai tahapan aktualisasi diri, ketika semuanya sudah karena dia sudah meraih 3P: Pangan, Pakaian, Perumahan. Ketika semuanya sudah teraih maka ia akan dihantarkan pada tahapan yang berikutnya yaitu aktualisasi diri. Dan, pencapaian prestasi ini tidak selalu berhubungan dengan masalah simbol-simbol materi atau simbol-simbol fisik sehingga banyak orang mengatakan bahwa success is not destination, but it is a journey. Sukses bukan tujuan tapi sukses adalah perjalanan. Perjalanan ke mana? Perjalanan menuju tahap yang berikutnya.

Kita harus memiliki tahapan yang disebut signifikan. Apa itu signifikan? Di atas sukses ada sukses. Setelah Anda berhasil, Anda harus bisa memacu diri Anda untuk bisa membuat orang lain lebih (berhasil dibandingkan Anda).

Ketika orang berpikir dengan cara signifikan, dia tidak akan lagi mengatakan demikian.Yang ada dalam hatinya adalah bagaimana saya bisa sukses dan saya bisa membuat orang lain berhasil seperti saya, bahkan lebih dari saya. lntinya, siap sukses tapi juga siap suksesi. Kalau hanya siap sukses tapi tidak siap suksesi, artinya kita belum termasuk orang-orang yang signifikan. orang-orang yang signifikan adalah selain sukses, dia juga siap untuk suksesi, dia siap "dilengserkan" kapan saja.
Seorang yang sukses belum tentu berkah, tetapi seorang yang signifikan sudah pasti akan berkah, sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah. Beliau tidak hanya sukses untuk dirinya, tapijuga bisa membuat sukses orang lain. Siapa yang tidak kenal Abu Bakar ash-shiddiq, Umar ibnul-Khaththab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abirhalib? Mereka itu adalah hasil didikan dari Nabi Muhammad saw.. Sehingga, setelah Rasulullah meninggal pun dakwah terus berkembang bukan hanya di kawasan Arab bahkan kawasan dunia internasionalyang tidak pernah kita bayangkan sampai ke negeri yang jauh. Di zaman Umar ibnul-Khaththab dakwah bisa sampai ke Spanyol, suatu hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Ini berarti bahwa beliau adalah seorang significant.
Sekati lagi signifikan adalah orang yang sukses tetapi dia juga bisa membuat berhasil orang lain.

diposkan oleh syafrizal helmi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar